Sabtu, 13 Desember 2014

Puisi 4




NEGARA IMPIAN
Karya : Anastasya Rizky Meilawathie


Aku punya negara impian
Negara yang santun
Dengan berjuta umat manusianya

Aku punya negara impian
Berjuta pulau
Bermacam suku, bahasa, dan agama

Aku punya negara impian
Bersatu dalam perbedaan
Dengan persatuan “Bhineka Tunggal Ika”

Aku punya negara impian
Negara nan indah
Kekayaan alam nan melimpah

Aku punya negara impian
Di mana kedok kemunafikkan tersusun apik dibelakangnya

Aku punya negara impian
Di mana sengketa antar saudara bukan hal tabu untuk di dengar

Aku punya negara impian
Dengan peringkat korupsi nomor 1 di Asia Tenggara

AKU PUNYA NEGARA IMPIAN
Negara yang bebas kemunafikkan
Bebas perselisihan
Bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme

AKU PUNYA NEGARA IMPIAN
Di mana rakyatlah pemeran utama dalam pemerintahan
Di mana pemerintah peduli teradap rakyatnya

AKU PUNYA NEGARA IMPIAN
Dengan SDM yang hebat
Dan pemuda yang berani melawan kebodohan

Aku punya negara impian
Negara Indonesia


Kamis, 20 November 2014

Puisi 3


MULA

Karya : Anastsaya Rizky Meilawathie

Ku tarik bibir ini, sunggingkan senyum keikhlasan
Baru ku rasakan lagi,  hal yang mengusik relung hati
Risih rasanya, namun aku tergesah ceritakan engkau
Engkau yang. anehhh....
Padahal hanya singkat perjumpaan kita
Sepekan perjumpaan itu, kita bersama

Tak pernah terpikir, dunia ini kembali
Sejak lama ku tepis rasa ini, berharap datang kembali saat waktunya tiba
Namun tak kuasa ku menepisnya
Lidahku kelu, rasa aneh ini mulai meramu malamku

Bersamamu ombak aku berlari
Mencoba berlari-lari dan menemukan siapakah gerangan dirimu
Aku masih mencoba berlari dan menikmati alunan lagu
Lagu-lagu cinta tentang engkau dan rasa.


Senin, 06 Januari 2014

Terpenjara Dalam Perasaan

Karya : Anastsaya Rizky Meilawathie

Aku terdiam, aku terus terdiam di tempat ini.
aku bagaikan burung yang tak dapat mengepakan sayapku sendiri.
aku telah kehilangan jati dirikusendiri.
laksana negara yang tak punya ideologi.
aku bagaikan burung merpati.
yang harus menuruti arah majikannya.
Tak bolehkan aku mengedipkan mata walau hanya 1 kali?
Tak bolehkah aku memegang walau hanya menyentuh?
Aku......, sebenarnya siapa aku ini??
aku hanya orang yang harus patuh, dengan berkata iya dan iya.
apakah ini hidupku?
Dan hanya aku yang memiliki hidup seperti ini?
terus aku meneteskan air mata, ketika aku bermunajat kepada tuhanku.
Allah.... Allah....
Apa aku hidup untuk menuruti kata demi kata yang mereka ucapkan?
tak bolehkah aku menentukan jalanku sendiri?
ingin rasanya aku berteriak dan berkata "Allah, hidup ini tidak adil".
Mengapa aku ini harus seperti burung yang terkurung di dalam sangkarnya?
mengapa??? mengapa tuhan?
haruskah aku terdiam? atau harus berontak dengan ini semua?
aku mungkin akan menjawab terdiam,
karena rencana mereka sebagian dari rencanamu, tuhan.
aku mungkin harus menjawab berontak,
karena ini memang tidak adil, aku tak bisa menetukan jati diriku sendiri.
16 tahun ini bagaikan terpenjara dalam perasaan.
mereka kira aku tak punya perasaan?
mereka kira aku tak punya kemauan?
Pantaskah aku berkata seperti ini, tuhan??
Pantaskah??
ini mungkin tak pantas aku ucapkan.
namun mungkin pantas, karena mereka yang merebut jati diriku.
mereka yang telah mengobrak-abrik kehidupanku.
Ayah... Ibu... aku ingin seperti mereka.
mereka semua kawan-kawanku.
yang hidup dengan perasaan, dan kemauan mereka sendiri.
aku ingin mencapi cita-citaku setinggi-tingginya seperti yang mereka cita-citakan.
Ayah... Ibu... Kembalikan jati diriku
Biarkan aku mengepakan sayapku sendiri, dan terbang sitinggi-tingginya.
biarkan aku berjalan sendiri sesuai keinginanku, sesuai dengan jiwaku, sesuai dengan perasaanku.
Ayah... Ibu... Jika kalian terus merebutnya.
Imajinasiku seakan tersayat-sayat.
Dan kalian tidak membiarkanku berjalan sesuai jiwaku, dengan imajinasiku, dam mimpi-mimpiku sendiri.
Aku tidak meminta apa-apa....
aku hanya ingin mengalir seperti air.
dan aku ingin bebas seperti burung yang terbang di angkasa