Cirebon akan jadi kota kenangan kesekian kalinya di hidup ini, bermula dari kebimbangan saat itu, sampai akhirnya aku memutuskan kota ini untuk melanjutkan D4, aku tidak bisa memungkiri keputusan ini ada sangkut pautnya dengannya. Dia yang saat itu menawarkan kuliah D4 yg nampaknya akan menyenangkan dengan kehadirannya. Sampai akhirnya.. cuma 1 bulan harapan itu berjalan dengan tidak mulus pastinya, bukan seperti yg kita ekspektasikan sebelumnya.
Tapi aku tak pernah menyesali sedikitpun keputusan ini. Aku bertemu banyak hal di kota ini, yang bisa aku jadikan pelajaran berharga di hidup ini tentunya.
Aku bertemu dengan realita yang nyatanya jauh dari apa yang aku ekspektasikan, aku bertemu dengan banyak teman baru, karakter baru, dosen2 baru, dan pribadi baru tentang diriku saat ini.
Aku bertemu 1 teman, yang darinya aku belajar banyak pelajaran berharga, belajar mempelajari hidup seperti apa yang ia jalani, belajar tentang hal baru, dan pikiran-pikiran dia yang kemudian membuat aku semakin belajar tentang kehidupan ini. Jujur, awalnya aku suka karena parasnya yg rupawan. Kemudian, aku tiba-tiba tidak suka dengan pemikirannya tentang pendidikan. Sampai akhirnya kita sekarang, hmm.. aku rasa jadi teman dekat. Dia sekarang suka mencurahkan perasaanya padaku, tentang kehidupan dia. Makanya aku katakan tadi, aku belajar banyak darinya.
Aku juga baru tahu kalau akhirnya aku menemukan hal yg sama antara aku dengannya. Aku tidak semakin jatuh cinta.. tapi aku kagum dan akan berterimakasih banyak padanya telah mengijinkan aku masuk kehidupnya, telah mengajarkan aku kehidupan, telah membirkan aku belajar banyak dari pemikirannya, dan telah menjadikan aku temannya.
Mungkin kalau aku rindu kota ini, salah satu hal yang aku rindukan adalah kamu. Temanku Abdul Somat ☺.
Rabu, 01 Maret 2017
Kamis, 26 Januari 2017
Puisi 7
Puisi Rangga 1
Menanti fajar
Menghempaskan keheningan malam
Rasa resah kian menyiksa
Mengharap dewa-dewa cinta menjawab rasa
Ah.. aku tak tau lagi
Diri siapa yang sedang ku puja
Rupanya hampir memakan separuh jiwa
Pancaranmu menusuk kalbu
Mencoba merasuk ke relung jiwa
Entah siapa yang semalam tadi aku cari
Bayangnya pun tak kian nampak di upuk mata
Sial...
Lagi-lagi aku terjebak
Hampir meronta aku di buatnya
Siapa lagi dirimu???
Aku masih tak mampu menatapmu
Sang fajar kini tlah datang
Menjawab kegelisahan yang ku rasa
Rangga.. ternyata dirimu yang slama ini ku cari
Menanti fajar
Menghempaskan keheningan malam
Rasa resah kian menyiksa
Mengharap dewa-dewa cinta menjawab rasa
Ah.. aku tak tau lagi
Diri siapa yang sedang ku puja
Rupanya hampir memakan separuh jiwa
Pancaranmu menusuk kalbu
Mencoba merasuk ke relung jiwa
Entah siapa yang semalam tadi aku cari
Bayangnya pun tak kian nampak di upuk mata
Sial...
Lagi-lagi aku terjebak
Hampir meronta aku di buatnya
Siapa lagi dirimu???
Aku masih tak mampu menatapmu
Sang fajar kini tlah datang
Menjawab kegelisahan yang ku rasa
Rangga.. ternyata dirimu yang slama ini ku cari
Kamis, 15 Desember 2016
Puisi 6
SAJAK KEHILANGAN
Karya : Anastasya Rizky Meilawathie
Seandainya hujan mengguyur kita, bahkan kilatan petir tak memberi ampun kepada kita
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Seandainya terik mentari tak memberi celah, membuat lengan2 kita terbakar karena sinarnya
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Seandainya deburan ombak tak henti2nya menenggelamkan kita kedalam lautan
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Seandainya pasir2 itu menggulung kita dan menimbun kita dalam hamparan gurun sahara
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Seandainya langakah2 kita tak juga kian mampu membawa kita kepuncak semeru
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Dan seandainya aku masih bisa terus menggenggam tanganmu dan mengucapkan 'jangan lepaskan genggamanku kawan'
Karya : Anastasya Rizky Meilawathie
Seandainya hujan mengguyur kita, bahkan kilatan petir tak memberi ampun kepada kita
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Seandainya terik mentari tak memberi celah, membuat lengan2 kita terbakar karena sinarnya
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Seandainya deburan ombak tak henti2nya menenggelamkan kita kedalam lautan
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Seandainya pasir2 itu menggulung kita dan menimbun kita dalam hamparan gurun sahara
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Seandainya langakah2 kita tak juga kian mampu membawa kita kepuncak semeru
Maka aku katakan, jangan lepaskan genggamanku kawan
Dan seandainya aku masih bisa terus menggenggam tanganmu dan mengucapkan 'jangan lepaskan genggamanku kawan'
Senin, 15 Desember 2014
Puisi 5
Putih Nampak Hitam
Karya : Anastasya
Rizky Meilawathie
Putihnya susu kurasa
manis
Saat datangnya kamu di
ambang hidupku
Bukan karena rasanya
Namun aku terbuai
karena kehadirnya
Kini, putihnya susu
tak lagi nampak oleh tintamu
Manisnya buah apel,
tak lagi senang ku liat
Ulat menggrogoti
setiap jengkalnya
Ah.. malam sungguh
malang nasibmu
Baru mencicipi manisnya
Namun telah habis
oleh ulatnya
buat kamu ombak yang menyapaku, dan memanggilku untuk pergi bersamamu =')
Sabtu, 13 Desember 2014
Puisi 4
NEGARA
IMPIAN
Karya : Anastasya Rizky Meilawathie
Aku
punya negara impian
Negara yang
santun
Dengan berjuta
umat manusianya
Aku punya
negara impian
Berjuta
pulau
Bermacam
suku, bahasa, dan agama
Aku punya
negara impian
Bersatu
dalam perbedaan
Dengan persatuan
“Bhineka Tunggal Ika”
Aku
punya negara impian
Negara nan
indah
Kekayaan
alam nan melimpah
Aku punya
negara impian
Di mana
kedok kemunafikkan tersusun apik dibelakangnya
Aku
punya negara impian
Di mana
sengketa antar saudara bukan hal tabu untuk di dengar
Aku
punya negara impian
Dengan peringkat
korupsi nomor 1 di Asia Tenggara
AKU
PUNYA NEGARA IMPIAN
Negara yang
bebas kemunafikkan
Bebas perselisihan
Bebas
korupsi, kolusi, dan nepotisme
AKU
PUNYA NEGARA IMPIAN
Di mana
rakyatlah pemeran utama dalam pemerintahan
Di mana
pemerintah peduli teradap rakyatnya
AKU
PUNYA NEGARA IMPIAN
Dengan SDM
yang hebat
Dan pemuda
yang berani melawan kebodohan
Aku
punya negara impian
Negara Indonesia
Kamis, 20 November 2014
Puisi 3
MULA
Karya :
Anastsaya Rizky Meilawathie
Ku tarik
bibir ini, sunggingkan senyum keikhlasan
Baru ku
rasakan lagi, hal yang mengusik relung
hati
Risih rasanya,
namun aku tergesah ceritakan engkau
Engkau yang.
anehhh....
Padahal hanya
singkat perjumpaan kita
Sepekan perjumpaan
itu, kita bersama
Tak pernah
terpikir, dunia ini kembali
Sejak lama
ku tepis rasa ini, berharap datang kembali saat waktunya tiba
Namun tak
kuasa ku menepisnya
Lidahku
kelu, rasa aneh ini mulai meramu malamku
Bersamamu
ombak aku berlari
Mencoba berlari-lari
dan menemukan siapakah gerangan dirimu
Aku masih
mencoba berlari dan menikmati alunan lagu
Lagu-lagu
cinta tentang engkau dan rasa.
Langganan:
Postingan (Atom)